Mesin Pertanian Alsintan

Bagi sebagian orang di Indonesia mendengar kata “Pertanian”, mungkin yang terbayang masih sesuatu yang tradisional sekali. Tidak jauh-jauh dari sawah, lumpur, alat berat, kerbau, cangkul bahkan terpaan sinar matahari. Tapi bukan berarti kemajuan teknologi tidak menyentuh segmen pertanian sama sekali, lho!

Pertanian di era 4.0 memiliki banyak peluang, khususnya bagi generasi milenial. Seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, sekarang mulai muncul hal-hal penunjang pertanian yang berbasis teknologi. Contohnya seperti berbagai aplikasi pertanian dan alat dan mesin pertanian (alsintan). Dengan terciptanya alsintan kini bertani pun menjadi efektif dan efisien. Efisiensi waktu kerja dan efisiensi biaya secara signifikan meningkat dan memberi keuntungan bagi para petani.

Kementerian Pertanian (Kementan) RI terus mendorong program pengembangan pertanian moderen. Salah satunya dengan memberikan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan), mulai dari pengolahan sampai dengan tahap panen dan pasca-panen. Sejak tahun 2014 Kementan telah mendistribusikan bantuan alat mesin pertanian dalam jumlah besar, yakni lebih dari 400.000 unit. Program ini menjadi salah satu jawaban terhadap tantangan di era industri 4.0.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sekarang ini level mekanisasi pertanian Indonesia sudah meningkat tajam, Itu semua buatan dalam negeri. “Sengaja kami mempercayakan pada researcher kita yang ada dalam pertanian maupun perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia,” ujar Amran.

Foto Mesin Alsintan

Mesin pertanian alsintan buatan anak negeri.

Alsintan Buatan Anak Negeri

berikut ini beberapa alsintan buatan anak negeri, diantaranya :

  • Mesin Penanam Tebu (transparter).
  • Boom Sprayer (sprayer untuk pestisida / pupuk cair).
  • Drone untuk mendeteksi unsur hara.
  • Autonomus Tractor (traktor tanpa pengemudi)
  • Robot Grafting (sambung benih pucuk kakao).
  • Jarwo Riding Transplanter
  • Smart Irigation (irigasi tetes di bawah permukaan tanah)

Manfaat alsintan modern kini juga sudah dapat dirasakan. Sebagai perbandingan, contohnya saja pengolahan lahan menggunakan tenaga manusia (cangkul), maka dalam 1 ha sawah diperlukan 30-40 orang, lama pengerjaannya 240-400 jam/ha. Sedangkan biayanya mencapai Rp 2-2,5 juta/ha. Sementara dengan alsintan (traktor tangan), hanya diperlukan tenaga kerja 2 orang, jumlah jam kerja hanya 16 jam/ha dan biayanya Rp 900 ribu-1,2 juta/ha.

Bantuan besar-besaran alat dan mesin pertanian pada 4 tahun terakhir telah mengubah wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern. Efek domino dari bantuan alsintan pun terjadi. Tidak hanya itu, produksi pangan pun terdongkrak, kesejahteraan petani pun meningkat. Dengan teknologi, diharapkan generasi milenial mau bercocok tanam, peduli dengan nasib petani dan siap meningkatkan produksi pangan Indonesia.